Ceker Palapa, Gurih-Gurih Empuk

Tempatnya kecil. Hanya sebuah gerobak dan sebuah meja yang ditutup dengan spanduk yang bertuliskan Ceker Palapa. Tapi jangan lihat kecil atau sederhananya, tapi tengoklah kelezatan dibalik olahan juru masaknya. Mungkin banyak orang bergidik mendengar kata ceker. Ya, ceker –yang kata orang merupakan bagian paling menjijikan dari ayam, karena ceker adalah kaki ayam—diolah sedemikian rupa oleh sang pemilik, menjadi santapan yang menggugah selera. Pilihannya cukup banyak: ada lodeh ceker, brengkesan ceker, dan penyetan ceker.

Menurut alasan si empunya warung, ceker ini jika tahu cara masaknya, maka kita bisa mendapatkan harta karun kelezatannya. Faktanya, ceker yang dulu tidak ada harganya, sekarang –lagi-lagi kata pemilik warung– satu kilonya bisa mencapai 15 ribu (aje gile). Kunci kelezatan dari masakan Ceker Palapa adalah keempukan bagian jari-jemari ceker meski tidak di presto. Lodeh ceker bahkan lebih ekstrim empunya, karena tinggal kita sruput saja –sruuppttt—daging muda ceker lansung meleleh di mulut kita.

Soalnya harga, jangan khawatir. Ceker Palapa termasuk warung yang menjunjung tinggi prinsip: enak dan murah. Hanya tujuh ribu rupiah sekali makan, kita bisa menikmati penyetan ceker plus tempe dan teh hangat. Atau anda juga bisa memilih menu istimewa lodeh ataupun brengkesan ceker. Saran pemilik warung, kalau Anda ingin menikmati lodeh dan brengkesan, jangan datang terlampau malam, diatas jam setengah delapan biasanya sudah habis.

Lokasi Ceker Palapa ada di jalan Pandegiling. Begitu Anda dari Raya Darmo mengarah ke utara, sampai di depan apotek Kimia Farma belok kiri. Dari situ –tidak sampai 100 meter—anda tinggal melongok ke sebelah kanan jalanan. Selamat menikmati hidangannya, karena Anda tidak perlu memikirkan bahan masakannya, tapi resapi saja kelezatannya.

Published in: on 15 Agustus 2009 at 09:14 Komentar (0)

Mie Ayam Murah Banget, Yummy Banget

Namanya mie ayam Pak Heru. Bentuk rombongnya biru seperti penjual mie pada umumnya. Di badan rombong mie ayam ini ada tulisan: Pak Heru dan 3.000. Jadi memang betul kalau satu mangkuk mie ayam ini harganya murah banget. Padahal kalau dari porsi makanannya juga cukup banyak, ikan ayamnya juga merata dan tidak cuman tulang-tulang saja (maklum beberapa penjual mie ayam banyak menghidangkan tulang dan jeroan daripada dagingnya).

Sebenarnya kalau dari tampilan fisik makanannya tidak terlalu istimewa. Komposisinya normal, ada mie, ayam, sayur sawi, acar, dan sedikit krupuk renyah. Tapi bumbu kuahnya saya pikir cukup spesial. Bahkan boleh dibilang, agak-agak beraroma kari ayam. Warna bumbunya kuning dan itu bukan bumbu yang dicampur dengan kuah. Pasalnya Pak Heru tidak pernah memberi kuah setelah mie yang direbus selesai ditungkan di mangkuk. Jadi kuah yang ada di mangkuk kita, ya itu semua bumbu racikan Pak Heru.

Tidak susah menemukan rombong mie ayam Pak Heru. Meski tidak menetap di satu kedai, tapi Pak Heru pasti berjualan di depan halaman Kebun Binatang Surabaya (KBS). Kadang di pojok, kadang di tengah, kadang dibawah pohon, tapi Pak Heru pasti di halaman KBS tempat penjualan tiket. Mie ayam Pak Heru ini paling nikmat disantap saat sore hari, saat situasi di sekitar KBS sudah mulai agak sepi, tapi lalu lintas kendaraan di jalan raya-nya bertambah ramai. Mie ayam ini biasa saya nikmati dengan 2 gelas air mineral sebagai pelengkapnya.

Published in: on 22 Juli 2009 at 19:20 Komentar (0)

Nasi Goreng Jawa, Ya… Ke Cak Kartolo Saja

Nama aslinya saya tidak tahu. Dan memang sejak menjadi langanan Cak Kartolo sekitar 16 tahun yang lalu, belum pernah sekalipun saya menanyakan nama aslinya. Tapi orang-orang di sekitar Tunjungan Centre (TC) Surabaya –terutama karyawan disana—memang memanggilnya dengan sebutan Cak Kartolo. Maklum, wajahnya betul-betul mirip dengan seniman ludruk tersebut.

Gerobak nasi gorengnya berada di bawah jembatan penyeberangan TC disisi Tanjung Anom. Kalau Anda dari arah Kramatgantung, masuk di perempatan Siola, ambil saja lajur sebelah kanan. Begitu Anda belok kanan menuju Tanjung Anom, Anda akan menemukan tempat parkir sepeda motor. Sekarang menjadi tugas Anda bertanya kepada tukang parkir, mana markasnya Cak Kartolo. Saya sarankan Anda tidak datang pada jam makan siang, karena saya pastikan Anda harus mengantri untuk bisa menikmat olahan Cak Kartolo.

Sebenarnya, masakan nasi gorengnya sama dengan nasi goreng jawa lainnya. Tidak ada yang istimewa dari tampilannya. Komposisi nasi gorengnya tetap sama: ada nasi, kecambah, sawi, kubis, sedikit mie, bumbu coklat yang kemudian diolah dengan sedikit saus. Diaduk-aduk beberapa kali, sampai ada bunyi “tekkk” tanda sutil (alat untuk menggorengnya) beradu dengan wajan. Atau mungkin memang sengaja dibenturkan oleh Cak Kartolo sebagai ciri khas memasaknya.

Waktu nasi goreng panas sudah siap dihidangkan, kita tidak akan melihat keistimewaan nasi goreng ini. Tapi begitu satu sendok nasi goreng yang sudah ada di depan kita masuk kedalam mulut, rasa gurihnya berasa sekali. Potongan ayamnya juga ayam Jawa seperti yang biasa dihidangkan pada masakan soto Lamongan. Rasa gurih yang kita rasakan itu sepertinya berasal dari bumbu coklat yang saya duga berasal dari campuran minyak ayam, bawang putih dan udang.

Selain menikmati nasgor, kita juga bisa menyantap mie kluntung, mie godog atau mihun goreng/kuah jika kita ingin mendapatkan variasi menu. Selamat mencoba.

Published in: on 18 Juli 2009 at 19:23 Komentar (1)

Soto Daging Bang Ali, Nikmat Beraroma Bawang

Warnanya coklat bahkan agak hitam ketika kita campur dengan sambel dan sedikit kecap manis. Warna yang sedikit beda dengan soto yang lain dengan aroma kunir yang merebak. Itulah soto daging Bang Ali yang unik. Daging dicampur dengan kuah soto plus taburan bawang merah dan bawang putih goreng, ditambah dengan sedikit kecambah membuat selera kita semakin bergelora.

Sambelnya adonan sambel bajak. Yang khas dari soto Bang Ali adalah kecap asin yang ditaruh didalam botol besar. Dan ketika si penjual selesai menuangkan kecap asin kedalam kuah soto, maka botol itu dihentakkan ke meja sehingga berbunyi suara “Dokkk” yang cukup kencang. Beberapa pecinta kuliner yang suka soto khas Jombang ini menyebutnya soto Dok, dimana sebutan dok tersebut berasal dari bunyi botol yang beradu dengan meja tersebut.

Tidaklah sulit menemukan lokasi soto daging Jombang Bang Ali. Terletak di dekat Maspion I kawasan Sidoarjo, posisi Bang Ali tepat didepan putar balik yang cukup lebar tersebut. Tapi kalau Anda masih bingung, mungkin Anda bisa menjadikan gapura Sidoarjo sebagai penandanya. Bang Ali tepat disebelah kanan jika Anda mengarah ke Selatan. Titik tepatnya, pas sebelum Anda melewati gapura tersebut.

Silahkan mencoba untuk menikmati lezatnya hidangan ini. Kuahnya merupakan racikan bumbu dicampur dengan rebusan kuah daging dan kuah babat. Soto akan semakin lezat Anda rasakan ketika dicampur dengan sedikit perasan jeruk yang sudah disediakan di meja makan. Jika masih kurang puas dengan irisan daging yang dicampurkan dalam mangkuk, maka Anda bisa menambahkan lauk pauk bacem seperti: usus, babat, paru, dan empal goreng yang sudah disediakan secara terpisah. Jangan lupa, supaya makan terasa lebih komplit, soto daging bisa disantap dengan diiringi segelas es jeruk manis.

Published in: on 12 Juli 2009 at 22:01 Komentar (1)

Pedasnya Sambel Pe Mbok Yeye

Malam tidak menjadi halangan bagi warga Surabaya untuk menikmati hidangan yang membuat lidah bergoyang, keringat mengucur deras, dan mulut membuka tutup karena rasa pedas mulai merasuk disela-sela tenggorokan. Ramuan makanannya terbilang sederhana. Komposisinya hanya nasi putih, tempe, telor, dan ikan Pe –atau ikan Pari— yang dipenyet diatas cobek besar dengan ulekan sambel yang pedas.

Warung Mbok Yeye pun terbilang jauh dari kesan mewah. Buka diatas pukul 11 malam, warung ini hanya berdiri didepan gang kecil dan buka tepat didepan toko yang sudah tutup. Meski terbilang sederhana bahkan terkesan alakadarnya, tapi bukan berarti tempat makan ini menjadi sepi pembeli. Biar buka pada malam hari, tapi pecinta kuliner yang mengantri bisa berdesak-desakan. Lebih cepat jika kita makan ditempat, dan akan terasa sangat lama jika kita memesan dengan dibungkus. Bahkan saking larisnya, Mbok Yeye bisa memasak nasi hingga tiga kali dalam tiga jam. Dan hebatnya lagi, ketika nasi habis dan sedang memasak satu bakul nasi berikutnya, orang yang mengantri pun tidak menjadi surut, justru semakin lama semakin bertambah.

Jika ditanya apa menariknya warung sambel ini, terkadang saya pun agak susah menjawabnya. Soal rasa, sambel manis alias sambel ulekan cobek yang ditambah gula pasir agak banyak menjadi favorit saya. Tapi untuk yang lain-lain seperti ikan telor dan tempe juga tidak terlampau istimewa. Nasi putihnya pun tidak seperti nasi punel yang gurih seperti buatan warung Madura. Kalau ditegok dari sisi kenyamanan tempat juga sama sekali tidak memenuhi kriteria. Pecinta kuliner yang makan dilokasi pun juga harus rela menyantap sambel Pe-nya didepan emperan toko. Atau kalau perlu makan sambil berdiri saking banyaknya orang yang datang.

Tapi inilah keunikan sambel Pe Mbok Yeye. Biar rasa biasa-biasa, dan tempat juga tidak terlalu istimewa, tapi ketika kita sudah pernah sekali saja merasakan pedasnya, maka saya jamin 2-3 hari berikutnya Anda pasti berkeinginan kembali kesana. Silahkan temukan sendiri kenikmatannya.

Published in: on at 21:46 Komentar (0)

Kenapa Blog Ini Tanpa Foto, Tanya Kenapa?

Halaman blog ini, memang sengaja tidak saya pasang foto makanan yang sedang saya review. Alasannya sederhana: Supaya Anda ingin tahu, seperti apa sih bentuk makanannya? apa betul rasanya seenak yang saya tulis? bentuk warungnya seperti apa ya?

Dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini, saya sangat berharap Anda berinisiatif untuk mengunjungi warung yang saya ceritakan disini. Tujuan mulia saya: Blog ini bisa mengangkat harkat dan martabat makanan pinggir jalan yang tentunya memiliki kualitas rasa yang tidak kalah dengan restoran mewah. Bahkan, beberapa diantara tempat makan yang saya kunjungi justru muncul fakta-fakta yang luar biasa. Seperti antrian panjang, harga murah rasa restoran, dan tempat makan yang rasanya biasa-biasa saja tapi seminggu-dua minggu kemudian saya kepingin kembali lagi.

Buktikan saja!

Published in: on at 20:44 Komentar (1)